Pencarian empu Sholawat Badar
Ia memulai cerita dengan mengenang suatu malam di tahun 1996. Waktu itu ia sedang menghadiri Haul kakeknya, KH. Ahmad Shiddiq di Jember. Tiba-tiba saja, di tengah acara ia didekati oleh KH. Muchith Muzadi. Kiai sepuh yang juga berasal dari kota tuban itu mengatakan kepadanya, bahwa Gus Dur meminta beliau untuk menanyakan prihal Shalawat Badar.
“Tentu saya jawab apa adanya.
Menurut Gus Dur, setelah membaca ribuan buku dan kitab dalam berbagai bahasa tidak ditemukan syair atau karangan bentuk apapun, dalam bahasa arab, yang gaya bahasa dan karakternya sama dengan Shalawat Badar. Lagi pula dalam shalawat badar jelas-jelas terdapat kata tawasul.
Penanda Sejarah
Meskipun lahir di Gianyar, Bali, Pak Syakir tumbuh dan menjalani masa kanak-kanaknya di Banyuwangi, termasuk mengenyam pendidikan SRI di kota itu pada kisaran tahun 1965. “Itu adalah masa-masa yang mengerikan,” kenangnya.
“Di dekat sekolah saya waktu itu ada bangunan rumah sakit yang menjadi salah satu rujukan korban jiwa.
Shalawat badar digubah pada masa-masa itu.
