"Wong Islam iku podho, ning yo bedo, bedo ning yo podho." (Orang Islam itu sama tetapi beda (mereka) beda tetapi sama). (KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al- Anwar, Sarang. Jateng, dan sesepuh NU)
Islam sebagai fenomena sejarah dan sebagai sebuah sistem keagamaan adalah monopluralis, tunggal dan sekaligus pluralistik.
Karakter itu sangat jarang diingat pada akhir-akhir ini karena maraknya sikap keberagamaan yg menafikan kemajemukan tersebut, Sebagaimana ajaran-ajaran keagamaan lainnya, Islam juga memiliki berbagai madzhab dan aliran, baik teologi maupun Fiqh.
Namun mereka diikat oleh satu Kalimat yakni Kalimat Syahadat yaitu sebuah kesaksian diri terhadap keesaan Allah swt (Tauhid) dan kerasulan Muhammad saw.
Hakekat monopluralisme Islam tersebut memungkinkan ummatnya untuk berkiprah mewarnai dan turut menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan, keadilan, dan kedamaian manusià dan semesta.
Islam adlh rahmat bagi semua, Sayangnya muncul dan berkembangnya pemahaman-pemahaman keagamaan yg monolitik serta anti terhadap perbedaan telah menjadi penghalang bagi perwujudan tujuan tersebut.
Sebaliknya malah muncul ideologi-idiologi politik yg mengatasnamakan Islam namun kiprahnya total bertentangan dengan spirit monopluralisme di atas.
Di negeri kita, ummat Islam sedang menghadapi ujian dan tantangan serta ancaman kelompok anti keberbedaan dan bahkan takfiri serta jihadi.
Ummat Islam yg menjadi salah satu elemen utama NKRI dicoba dipecah belah dan diintimidasi oleh kelompok tersebut.
Hasilnya adalah keterpecahan dan sekaligus pelemahan dalam batang tubuh bangsa Indonesia dan NKRI.
"Mari Kita camkan dan pahami pitutur Mbah Moen yg tampak sederhana namun sangat hakiki dan dalam maknanya"